Anakku ABK #3

PERAN KELUARGA !!



Cerita part 3 ini saya akan membahas tentang peran keluargaku kepada kami yang mempunyai anak berkebutuhan khusus.

Cukup berbeda pastinya dengan keluarga yang mempunyai anak sehat normal pada umumnya, mulai dari kegiatan sehari-hari dengan keluarga, cara merawatnya, cara mendidiknya, dan cara menyayanginya. Apalagi anakku baru usia 1 tahun 4 bulan, dan kemampuan motorik kasarnya belum lulus semua, termasuk tegak angkat kepala seperti kita yg normal.

Saya tidak ingin anak kami diperlakukan berbeda dengan orang normal, saya justru ingin bisa bermain bersama dan berkarya bersama dengan keterbatasan kemampuannya. Tetapi perbedaannya anakku harus mendapatkan perhatian yang khusus dalam merawat dan mendidiknya. Umpama anak normal bisa memegang sendok sendiri, tetapi anakku harus diajari untuk cara memegang sendok.  

Di dalam keluargaku aku mempunyai ayah, ibu, dan 2 saudara perempuan yang masing-masing sudah berkeluarga dan mempunyai rumah sendiri. Kalau suamiku mempunyai ayah, ibu dan 2 saudara, satu perempuan sudah berkeluarga dan satu laki-laki masih sekolah SMA.

Agar cerita ini bisa dinikmati, saya akan menggolongkan menjadi beberapa bagian πŸ€—.

IBU KANDUNGKU

Aku bersyukur kepada Allah SWT, masih memberiku nikmat mempunyai ibu seperti ibu kandungku yang selalu siap siaga membantuku merawat anakku. Jadi aku tidak sendirian. Dalam hal ini aku tidak membahas suamiku, karena posisinya sama sepertiku sebagai orang tua anakku. 

Menginap di rumah sakit selama 45 hari saat awal perjalanan mengetahui sebab-sebab anakku seperti ini, ibuku tidak absen selalu di sampingku, membantu menjaga anakku, menggantikan menggendong saat aku lelah, dan bahkan mencuci pakaianku dan suamiku saat di rumah sakit. Karena ibuku memahami betapa terpukulnya kami saat itu. Begitu capek dan bosan sekali kegiatan sehari-hari di rumah sakit selama itu, seandainya aku tidak ditemani ibuku mungkin aku akan sering sekali menangis dan lebih capek. Kebutuhan finansial selalu dibantu meskipun aku dan suami juga mempunyai pegangan sendiri, tapi sebagai orang tua tidak bisa melepaskan anaknya untuk memikirkan hal ini sendirian. Alhamdulillah ❤️

AYAH KANDUNGKU

Ayahku kerja di Kalimantan, baru beberapa hari di sana rela langsung pulang ke Lamongan karena mendengar anakku masuk ICU saat itu, ayahku ikut menemaniku bermalam di rumah sakit sekitar 20 hari, pulang dari Kalimantan langsung ke rumah sakit tanpa pulang ke rumah dahulu. Terima kasih ayahku, biasanya aku menyebut "bapak". Tanpa kerja kerasmu mencari nafkah ibuku mungkin merasa susah untuk membantu mencukupi biaya hidup kami di RS, semua mudah salah satu karena bantuanmu.

 Ayahku adalah sosok orang yang gugup, gampang nangis saat melihat anakku kejang, gampang gugup saat aku kurang tepat dalam merawat anakku seperti saat posisi menggendong yang kurang tepat hehehe. Alhamdulillah ❤️

SAUDARAKU

Sekarang jumlah saudaraku bertambah menjadi 4 yaitu tambahan dari saudara suami 😊 . Aku juga bersyukur mempunyai saudara yang begitu perhatian dengan anakku, selama di RS 3 saudaraku perempuanku sering pulang pergi dan bermalam di RS untuk menjenguk anakku. Saat itu belum musim pandemi covid 19, jadi saudaraku mengajak anak-anaknya yang masih kecil ke rumah sakit tidak dipermasalahkan. Begitupun dengan saudara perempuan iparku saat itu sedang hamil tua, masih disempatkan untuk selalu menjenguk anakku, dan tidak telat menanyakan kabar melalui via WA, dia paling rajin menanyakan kabar anakku karena dia tidak tinggal di Lamongan. 

Respon saudaraku begitu bagus, mereka memahami apa yang harus mereka lakukan saat bermain dengan anakku yang belum bisa apa², mereka sangat peduli. Terima kasih, tidak lupa bersyukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah ❤️

MERTUAKU

Ayah dan ibu suamiku yang sekarang menjadi orang tuaku juga, ibu mertuaku juga ikut bermalam sekitar 15 hari, beliau pulang karena saudara iparku melahirkan saat itu. Jadi di RS pertama saat itu rame-rame, kami tidak sendirian. Saat di RS Surabaya sering pulang pergi menjenguk kami. Tidak lupa beliau juga membantu mencukupi kebutuhan finansial kami, jadi Alhamdulillah kami masih mempunyai 4 orang tua yang masih siap siaga membantu kami. ❤️

Biasanya waktu kontrol ke RS Surabaya kami naik kereta api, pernah juga pengalamanku kehabisan tiket kereta, karena waktu itu belum paham kalau bisa beli tiket online hehe. Tapi Alhamdulillah karena mertua mempunyai kendaraan ke sana jadi sekarang sudah tidak naik kereta lagi, dan bisa lebih enak naik kendaraan sendiri. Alhamdulillah ❤️

Masih banyak cerita tentang peran keluarga kepada kami, jika saya tulis detail mungkin tangan saya capek ngetik hehehe. Tapi sekali lagi disamping Allah memberikan anak istimewa (berkebutuhan khusus), ada keluarga yang menyayangi dan peduli kepada kami. 

Alhamdulillah ❤️

Bersambung....

Nantikan cerita selanjutnya πŸ€—


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama ganti-ganti nama anak

Terdiam selama 1 tahun karena anak

Anakku di swab covid 19