Anakku di swab covid 19

 Hai teman blogger ku ❤️

Saya bercerita karena saya ingin, ada beberapa kisah yang mungkin menarik dan drama yang tidak saya ceritakan di blog karena saya tidak ingin. Apa yang saya tulis adalah apa yang saya ingin tulis ❤️ yang jelas sudah mewakili kejadian-kejadian yang saya alami. Sedikit banyak semoga bermanfaat buat semuanya 😊

SWAB COVID 19 

Swab covid 19 dilakukan karena Shihah mempunyai gejala yang mencurigakan yang mengarah kepada pemeriksaan prosedur covid.

https://www.google.com/search?q=virus+covid&client=ms-android-xiaomi&prmd=ivn&sxsrf=ALeKk02QAomiGRNAh1Ldg9upk7J7SIjsuQ:1612300740176&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwj3jo6nkMzuAhWpILcAHRxvDI8Q_AUoAXoECBQQAQ&biw=393&bih=659&dpr=2.75#imgrc=Kj4dagCv95XBbM

Awalnya Shihah masuk rumah sakit karena epilepsinya kambuh dan tak kunjung berhenti, kejang sampai 40× sejak sore sampai esok paginya berangkat ke RS. Tiba di IGD RS ada sebuah pernyataan yang harus kami setujui yaitu *Bu... adiknya harus di rapid dan di rongsen parunya, misal nanti hasilnya reaktif dan menunjukkan covid maka adik harus di isolasi dan hanya ibunya yang menunggu di dalam ruangan serta tidak boleh bergantian, nanti isolasinya di ruang kemuning ya Bu... Di awal ibu boleh setuju atau tidak Monggo bisa didiskusikan dengan keluarga* .


Terkejut, takut, bingung, resah, menyerahkan yang kami rasakan saat itu. Ingin menyetujui pulang saja jika reaktif karena yang nunggu Shihah di ruangan tidak boleh bergantian dan akan di isolasi bersama orang-orang yang sama reaktif, coba dibayangkan aja udah serem !! Bayangan kami awalnya cuma reaktif aja takutnya jadi bener-bener positif dll, tapi disisi lain Shihah harus dapat penanganan dari RS karena epilepsinya kambuh. Kami takut hasilnya reaktif karena Shihah batuk dan nafasnya ada grok-groknya.

Selama menunggu hasil kami tidak tenang dan resah, tetapi Alhamdulillah tiba-tiba perawat memanggil ayahnya untuk mengurus kamar rawat inap yang ada di ruang anggrek yaitu ruang khusus anak-anak ❤️. Seperti ruangan yang Shihah gunakan dulu. Perasaan lega, syukur dan bahagia perjalanan pindah ke rawat inap anggrek πŸ˜‚.

Jadi teman-teman, orang desa itu sedikit banyak tidak percaya dengan covid karena hidup mereka kebanyakan di ladang jadi untuk keluar desa itu bisa dikatakan "jarang" . Jadi ada juga yang tidak pakai masker. Tapi...kalau ada salah satu orang desa sakit dari RS terus dinyatakan reaktif atau positif, orang-orang juga banyak yang takut dan khawatir tertular. Pokoknya intinya orang desa positif atau tidak mending lebih baik tidak mengetahuinya πŸ˜€. Banyak juga Yang sebenarnya sakit dan butuh dirawat di RS tapi mereka lebih menahan diri di rumah jika masih bisa makan dan minum, ngenes sekali yaaπŸ˜‚πŸ€”πŸ€¦πŸ™ .

Next cerita di ruang rawat inap, kami sudah beres-beres di kamar dan istirahat. Beberapa jam kemudian ada 2 perawat yang meminta kami pindah kamar *perasaan kami dag digh dugh kembali, sambil mikir kok pindah si katanya non reaktif dll*. Ya sudah kami pindah kamar untuk sendiri tapi masih di anggrek. Setelah tanya perawatnya ternyata karena rongsen paru-parunya Shihah ada bintik-bintik putih atau disebut pneumonia. Pikiranku udah terpecah belah karena membayangkan yang tidak-tidak.
Gelaja-gejala tersebut mengarah pada covid jadi bisa dibayangkan perasaan kami hehehe. PARNO !!

*Bu...antarkan surat ini ke poli paru 2 ya...* Iya Bu....itu percakapan saya dan perawat, agak ngeh kalau itu pemeriksaan covid karena ada tulisannya.🀦

Esoknya datanglah Nakes berpakaian seperti astronot putih² dan tertutup semua sambil bawa kotak berisi alat medis masuk kamar. 



Menunggu hasil swab covid 19 rasanya kami tidak bisa tidur karena takut positif, dikarenakan gejala Shihah mengarah kepada covid dan Shihah juga habis bepergian dari Surabaya, lengkaplah sudah.

HASIL SWAB COVID 19 KELUAR 

Bu...hasil swabnya udah keluar, hasilnya negatif !! Kata perawat sambil santai masuk kamar Shihah. Saya sangat heboh mendengar kalau Negatif πŸ˜‚πŸ˜‚ !! Bersyukur alhamdulillah.

Jadi berfikir, kalau memang negatif ya negatif ya... meskipun gejalanya mengarah pada covid. Jadi inget orang desa yang takut sama hasil covid yang katanya tidak covid tapi di covidkan. Kalau menurut saya anggapan tersebut kurang tepat si ! Karena saya ngalamin sendiri hahaha. Kalau menurutku ketika sakit di rumah dan memang benar-benar harus di rawat di RS lebih baik di rawat aja biar tidak semakin memburuh di rumah, yang menunggu dan yang sakit tetep mematuhi protokol kesehatan yaa.....πŸ€—

EPILEPSI 

Opname selama 7 hari sudah memberhentikan kejangnya Shihah, dan waktunya pulang dari RS. Berharap sudah sehat dan tidak kambuh lagi, paru-parunya sehat, dan batuknya hilang.
Selamat tinggal rumah sakit.

29 Januari 2021 pulang dari RS. 31 Januari siang kambuh lagi epilepsinya kami tunggu sampai malam tidak kunjung henti, akhirnya malam tanggal 31 Januari 2021 berangkat lagi ke IGD.
Opname lagi....

Bersambung...
Nantikan cerita selanjutnya ❤️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Drama ganti-ganti nama anak

Terdiam selama 1 tahun karena anak