Anakku ABK #1
Ceritaku mulai dari anakku lahir ke dunia. Karena sebelum lahir ke dunia tidak pernah ada perasaan atau fikiran kalau anakku terlahir ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Hari Minggu pagi tanggal 13 Oktober 2019 periksa ke bidan desa dengan keluhan sejak malam punggung dan perut terasa nyeri dan badan capek semua disertai demam. Usia kehamilan masuk pada usia 40 Minggu, waktu itu bidannya tidak ada dan hanya ada perawat yang memeriksa serta konsultasi dengan bidan melalui smartphone. Saya diminta untuk ke ruang bersalin karena usia kehamilan sudah matang, di sana ada tindakan dari perawat untuk cek sudah bukaan berapa, alhasil baru bukaan 1. Saat itu saya tidak merasakan kontraksi dan sebagainya hanya saja badan saya lemas karena demam. Setelah tindakan cek bukaan, kemudian cek detak jantung bayiku di dalam kandungan, alhasil detak jantung bayiku saat itu lemah kemudian perawatnya Konsul ke bidan untuk segera dirujuk ke rumah sakit agar segera dilakukan operasi Caesar. Sebelum berangkat saya dipasang infus dan oksigen.
Tiba di salah satu rumah sakit di kota saya lamongan, dengan perjalanan masih didampingi oleh perawat dan keluarga. Saya masuk IGD dipasang infus baru, oksigen, dan ganti baju operasi serta pemasangan selang untuk BAK (Buang Air Kecil). Mendapatkan jadwal operasi sore, dan sebelum operasi diminta untuk berpuasa.
Diruang operasi, saya hanya bersama dokter dan perawat. Tindakan anestesi dan persiapan operasi sedang berjalan, tiba-tiba setengah badanku rasanya tdk ada karena bius yg sudah aktif. Badanku di ruang operasi begitu menggigil parah efek bius, operasi berjalan dengan lancar dan saya masih dalam keadaan cukup menggigil sambil mendengarkan dokter dan perawat bercerita ditengah proses oprasi, di situ saya merasa agak santai karena topik ceritanya tentang demo di Jogja.
Kondisi anakku lahir langsung menangis kencang, fisiknya lengkap tanpa kekurangan suatu apapun, tidak ada gejala kuning atau biru. Saya dan anak pindah dalam satu ruangan inap khusus ibu-ibu yang habis lahiran. Anak saya ditidurkan ditempat tidur bayi dan saya masih belum mempunyai minat untuk menggendong atau menyusuinya, karena kondisi pasca saya operasi tubuh ini begitu kesakitan, sulit untuk duduk, bicara, dan belum kuat menggendong. Banyak cerita ibu-ibu lain pasca operasi Caesar tidak sesakit yang saya ceritakan katanya tergantung kekuatan tubuh masing-masing. Tapi kenyataannya saya di rumah sakit sampai hari pulang belum bisa berdiri maupun berjalan, sangat sakit seperti disayat-sayat.
Kondisi anakku mulai terlihat ada keanehan setelah 6 jam lahir ke dunia, setelah diimunisasi badannya panas dan ada gerakan kedip-kedip bagian mata dan tangan sampai pundaknya. Ayahnya panik dan langsung konsultasi dengan Perawat RS tersebut, tetapi setelah diobservasi perawat RS bilang kalau itu kagetan reflek bayi, kemudian ada yang bilang alergi AC, dehidrasi. Selama di RS anakku tidak ada tindakan apapun karena menurut mereka itu gerakan wajar pada bayi baru lahir. Semua keluargaku mulai tenang.
Setelah pulang ke rumah, kondisi anak saya tetap sama masih ada gerakan kedip-kedip dan semakin nampak, ada keganjalan dan kekhawatiran yang berulang di keluarga. Kemudian anak saya di bawah ke BP (Balai pengobatan) dekat desa saya kerena di sana ada praktek dokter spesialis anak. Kata DSA gerakan anak saya hanya reflek bayi biasa dan akan hilang 1 atau 2 bulan lamanya. Pulang dari BP sekeluarga merasa lega dan sudah tidak khawatir, berjalan sampai 1 Minggu gerakan anak saya mulai berganti seperti bayi sedang ketakutan dan menangis. Disisi lain DSA bilang itu wajar, jadi ada merasa setengah tenang dan setengah masih khawatir.
Orang desa berfikir itu diganggu makhluk halus yang suka mengganggu anak kecil, alhasil pengobatan alternatif mulai dilakukan seperti ke dukun, orang pintar, dan kiyai. Tetapi tidak ada hasil yang merubah gerakan tersebut menjadi hilang. Pengobatan tersebut berjalan sampai usia anak saya menginjak 45 hari. Selama itu sering badan panas dan ada gerakan-gerakan seperti takut, sampai ada gerakan seperti sedang dicekik lehernya. Tidak lupa juga periksa ke bidan desa karena keluhan-keluhan tersebut, tetapi semua mengatakan itu reflek bayi dan ada beberapa bidan yang kurang memahami.
Saat usia 45 hari waktunya rambut si bayi dicukur, budaya Masyarakat kami memang seperti itu. Setelah dicukur badannya sangat panas, tetapi ada kalimat dari para orang tua kalau itu sudah biasa dirasakan bayi setelah dicukur karena kehilangan rambutnya. Kalimat itu agak menenangkan kami, tapi tetap diperiksakan ke bidan dan dikasih obat, panas turun besoknya panas lagi lebih tinggi.
Pergi ke puskesmas kecamatan dan langsung dirujuk ke salah satu RS faskes 2 di Lamongan...
Bersambung....
Nantikan cerita selanjutnya ❤️

InsyaAllah akan ada hikmah besar dibalik coban ini. Semog Ibu Lifa dan keluarga pinaringan tabah, sabar dan bahagia...
BalasHapusAamiin ya rabbal alamin
HapusIbu dan ayah yg tangguh.. Smngat bu.. Smoga lekas membaaik
BalasHapusSemoga bisa jadi ayah dan ibu yg tangguh dan selalu semangat. Aamiin makasih doa dan semangatnya
HapusSuper sekali
BalasHapusKesabaran ketangguhan kekuatan keimanan ketabahan keberanian ....selalu menyertaimu
BalasHapusAamiin ya rabbal alamin
HapusStroong boskuuu๐๐
BalasHapus